KOMUNIKASI KESEHATAN MELALUI MEDIA INTERNET (Studi tentang Penyuluhan Kesehatan Reproduksi Remaja Menggunakan Media Internet)

Abstraksi

Artikel ini akan mengupas tentang kegiatan penyuluhan melalui media internet (Cyber extension) di Indonesia yang dilakukan oleh pihak-pihak yang berkompeten dengan kesehatan reproduksi remaja.

Fenomena kemajuan teknologi komunikasi saat ini telah menggejala dimana-mana, terbukti dengan tingginya aksesibilitas teknologi komunikasi oleh seluruh lapisan masyarakat termasuk diantaranya para remaja di Indonesia. Banyaknya para remaja yang beramai-ramai mengunduh video porno melalui internet pada komputer maupun handphone menjadi latar belakang masalah untuk mengetahui seberapa besar media internet itu digunakan untuk kegiatan penyuluhan kesehatan reproduksi bagi remaja.

Dengan metode penelitian survei, peneliti menginventarisasi berbagai pihak baik dari pemerintah maupun non pemerintah dalam  upaya penyuluhan kesehatan reproduksi remaja dan mengumpulkan situs-situs yang menyediakan layanan informasi dan konsultasi mengenai kesehatan reproduksi remaja di internet.

Hasil penelitian menunjukan banyaknya situs-situs yang menyediakan  layanan berita, informasi dan konsultasi mengenai kesehatan reproduksi remaja melalui internet baik dari pemerintah maupun non pemerintah, seperti http://www.ceria.bkkbn.go.id, www.kesrepro.info, http://www.pilar.pkbi.20m.com, http://www.birudanpink.com dan lain-lain. Dari kategori interaktivitas, semua situs sudah melayani konsultasi kesehatan reproduksi interaktif melalui media internet, selebihnya hanya memberikan konsultasi kesehatan reproduksi remaja melalui forum diskusi interaktif.

 

Kata Kunci: penyuluhan, kesehatan reproduksi, remaja, media internet

 

PENDAHULUAN

Sebuah fenomena remaja dalam bereksplorasi tentang seks dengan cara beramai-ramai mengakses situs-situs porno dan mengunduh foto atau video beradegan “erotis-seks” marak terjadi di Indonesia. Seperti yang diberitakan di Okezone.com . pada bulan Juli 2010 yang bertajuk: Gawat 7 dari 8 Remaja Simpan Video Porno ‘Ariel’, menunjukan banyaknya para remaja beramai-ramai mengunduh video tersebut melalui internet di komputer maupun handphone. Untuk penyebarannyapun juga sangat mudah, yakni menggunakan fasilitas bluetooth antar handphone atau fasilitas multi media message yang dikirimkan ke teman-teman.

Handphone sebagai salah satu teknologi komunikasi, yang memiliki atribut seperti praktis dan dapat dibawa kemana-mana (mobilphone), canggih, dapat kita digunakan untuk telepon, menulis pesan pendek, dan juga untuk mengirim foto. Bahkan sekarang handphone dengan fiture terbaru dengan teknologi 3G dapat kita gunakan untuk berkomunikasi dengan tatap muka atau melihat wajah lawan bicara, chatting, mengirim e-mail, dan digunakan untuk mengakses internet.

Teknologi komunikasi diartikan sebagai perlengkapan hardware, struktur organisasi, dan nilai-nilai sosial dimana individu-individu mengumpulkan, memproses dan tukar-menukar informasi dengan individu-individu lain (Roger, 1986 dalam Noegroho, 2010b). Peran sosial dari teknologi komunikasi saat ini telah menambah konsep jejaring sosial yang riil ada di masyarakat dengan jejaring sosial dunia maya atau cyber.

Data terbaru mengenai penggunaan fasilitas internet melalui handphone menjadi sarana untuk mempercepat akses dan juga semakin banyak yang menjadi penggunanya dalam waktu yang singkat. Contohnya fasilitas chatting room dan share informasi malalui situs jejaring sosial http://www.facebook.com.  Pada tanggal 29 Agustus 2008, situs jejaring sosial Facebook ini kian populer. Pihak pengelola mengumumkan, bahwa pengguna layanan situs jejaring Facebook ini telah tembus 100 juta. Setahun berikutnya pada 20 September 2009, CEO Facebook Mark Zuckerberg dengan bangga mengumumkan jumlah pengguna Facebook sudah menembus angka 200 juta, dan pada tanggal 18 September 2009, Warga Amerika Serikat yang mendaftarkan diri di Facebook sudah mencapai 90 juta pengguna.

Kembali lagi ke masalah seksualitas remaja di Indonesia, seperti gambaran gunung es di tengah lautan, banyak kasus yang terjadi di masyarakat namun yang muncul di permukaan hanya sebagian kecil saja. Dalam BKKBN online tanggal 22 Januari 2010, menyatakan bahwa remaja di Indonesia kini sudah berani bereksplorasi  dengan seksualitas. Berdasarkan data dari Badan Kordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN online) periode akhir Desember 2008 menunjukkan bahwa sebesar 63%  remaja di kota-kota besar di Indonesia telah melakukan hubungan seks pranikah, dan sebagian besar meyakini hubungan seks yang mereka lakukan tidak menyebabkan kehamilan.

Dr. Boy Abidin, SpOG yang berpraktik di Rumah Sakit Mitra Kelapa Gading, Jakarta, juga memiliki data kehamilan remaja di Indonesia. Hasilnya sangat mengejutkan. Sekitar 3,2% siswi hamil di luar nikah karena diperkosa, 12,9% hamil di luar nikah karena melakukan seks atas dasar sama-sama mau, 45,2% hamil di luar nikah secara tak terduga kalau mereka bakal hamil serta 22,6% menjalani seks bebas. Data yang membuat kita mengelus dada itu terjadi karena minimnya pengetahuan mereka mengenai kesehatan reproduksi serta akibat penyakit menular yang ditimbulkan dari perilaku seks bebas tersebut. Seks kadang menjadi hal tabu untuk dibicarakan, apalagi yang menganut paham ‘ketimuran’ seperti Indonesia. Namun, dampaknya sungguh fatal. Para remaja itu memilih mencari tahu sendiri, bahkan melakukan seks tanpa mengetahui konsekuensi yang harus ditanggung di masa depan. (www.hanyawanita.com)

Dalam masa remaja, perkembangan perilaku seksual merupakan akibat langsung dari pertumbuhan kelenjar-kelenjar seks (gonad). Hal ini menjadi sangat penting untuk mendapat perhatian karena masanya terjadi pergaulan sosial remaja, maka sangat dimungkinkan ia bertemu dan berusaha mendekati lawan jenisnya. Hasrat untuk mencintai dan dicintai akan terus memotivasi para remaja untuk mencari teman yang dipandang dapat mengerti keadaannya dan dapat dijadikan teman berbagi keluh kesah dan gembiranya. Setelah dirasa dapat memenuhi harapannya, maka sepasang sejoli itu bersepakat untuk melanjutkan hubungan yang lebih dari sekedar teman, yakni pacaran.

Fenomena perilaku remaja dalam berpacaran yang dikemas menjadi fakta dalam pemberitaan oleh para jurnalis media on-line dari kurun waktu tahun 2009-2010 dalam Noegroho (2010a) yang tersaji pada tabel 1, ternyata sangat banyak dan menunjukan pada tingkat yang dapat disebut mencemaskan.

Tabel 1. Daftar Pemberitaan Mengenai Remaja dan Seksualitas:

No Judul Waktu Alamat situs/sumber

1

Kasus pernikahan di bawah umur atau pernikahan dini di Purwokerto menunjukan angka peningkatan

08 Juli 2009 TEMPO Interaktif
2 Foto Bugil Siswi SMP di Palembang beredar via Handphone 4 Februari 2009 Sriwijaya Post – 3/2/2009 dalam Heboh.Mampir.Net™
3 Video Mesum Siswi SMP di Palu Hebohkan Warga 15 Desember 2009 Palu (ANTARA News)
4 Puluhan Warnet di Purwokerto Jadi Tempat Mesum 03 Desember 2009 Republika Newsroom

5

Siswa Mesum di Hotel, Dipergoki Ayah Sedang Bugil

14 Nov 2009 http://www.riauinfo.com

 

6

63% Siswa SLTP Sudah Berhubungan Seks

7 Januari 2009
http://www.vhrmedia.com
7 25% Siswa SMU Sudah Berhubungan Seks  
http://cybernews.com
8 Hot! Lulus Unas, 9 Siswa Pesta Seks 17 Juni 2009
 www.beritajatim.com
9 Seks.Dulu..Lalu.Tidak.Ikut.UN 27 April 2009
http://regional.kompas.com
10 Tinggi, Angka Pernikahan Dini di Malang 10 February 2009 BKKBN-online
11 Kondom Bukan Pembenaran Seks Bebas

 

22 Januari 2009 Sumber: Media Indonesia Online

12

Video Siswi SMP Mesum Beredar Luas

Diakses 2010 www.berita86.com

13

Berzina Direndam Setengah Bugil

24 Januari 2010 http://pakarbisnisonline.blogspot.com
14 Siswa SMP Tertangkap di Kamar Mandi Berhubungan Seks 12 Januari 2010 http://www.suaramerdeka. com
15 Siswi kelas II Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) melahirkan di sekolah 26 Februari 2010 http://www.suaramerdeka. com
16 Siswi SMA Negeri 12 Surabaya melahirkan di sebuah kamar mandi sekolah 17 Juli 2010 www.inilah.com

Sumber: Noegroho (2010a)

Fakta dan data bahwa sebagian para remaja secara aktif melakukan seks, tingginya angka remaja putri yang hamil, meningkatnya angka dispensasi permohonan menikah pada anak di bawah umur, banyak bayi terlahir dari rahim remaja, dan banyak kasus yang lain berkenaan dengan aborsi, proses bayi lahir prematur, dan tingkat kematian bayi, menjadi masalah yang sedang dihadapi tidak hanya Indonesia namun juga negara-negara di dunia saat ini.

Membaca banyak kasus yang terjadi tentang remaja dan seks ternyata perilaku pacaran remaja kita sudah mencemaskan. Ketika sebagian orang tua mengganggap pernyataan tersebut sebagai hal biasa karena bingkai pikirannya menggunakan sistem gaya hidup modern, namun sebagian lagi yang lain mulai khawatir prihal pernyataan tersebut. Mengenal lawan jenis bagi remaja memang perlu untuk menyiapkan diri para remaja untuk jenjang berikutnya yaitu dewasa. Oleh karena itu, informasi yang cukup tentang pendidikan seks dan kesehatan reproduksi perlu dibekali kepada para remaja.

Dengan segala kemudahan akses untuk memiliki media massa cetak, para remaja dapat membeli majalah, tabloid untuk pria/wanita dewasa yang dijual bebas di agensi-agensi, mall, toko-toko, atau langsung pada para pengecer di pinggir jalan. Sarana teknologi komunikasi yang ada saat ini, para remaja juga menjadi sangat leluasa mendapatkan berbagai ragam informasi dan bereksplorasi untuk memenuhi segala hasrat rasa ingin tahunya tentang banyak hal, termasuk diantaranya hal-hal yang berkaitan dengan seks.

Banyak ragam bentuk kegiatan telah diselenggarakan oleh berbagai pihak dalam rangka penyuluhan dan konseling tentang kesehatan reproduksi remaja di berbagai kota di Indonesia, baik inisiatif dari instansi pemerintah, non pemerintah, maupun atas inisiatif dari masyarakat bersama para penyuluh kesehatan di lapangan. Tujuan dari penyuluhan kesehatan reproduksi remaja diantaranya untuk memberikan pengetahuan kepada para remaja seputar kesehatan organ reproduksinya dan menguatkan perilaku remaja agar terhidar dari penyakit menular seks dan terjadi kehamilan yang tidak dihendaki sebelum menikah.

Keterkaitan kemajuan teknologi komunikasi dan masalah seksualitas remaja Indonesia melandasi pemikiran penulis untuk mengungkap lebih jauh fokus permasalahan: seberapa besar pemanfaatan teknologi komunikasi oleh pihak-pihak yang berkompeten di Indonesia dalam menyebarluaskan informasi tentang kesehatan reproduksi bagi remaja?

TINJAUAN PUSTAKA

Teknologi Komunikasi

Teknologi komunikasi menurut Rogers (1986) dirumuskan sebagai peralatan perangkat keras, struktur-struktur organisasional, dan nilai-nilai sasial dengan mana individu mengumpulkan, mengolah, dan saling bertukar informasi dengan individu lain. Sedang teknologi informasi menurut Ely (1982) mencakup sistem-sistem komunikasi seperti satelit siaran langsung, kabel interaktif dua arah, penyiaran bertenaga rendah (low power brodcasting), komputer termasuk Personal Computer dan Note Book, serta televisi (VCD dan Video tape cassette). (Nasution, 1989)

Menurut Ashadi Siregar (2001) dalam makalah seminarnya mengatakan, teknologi komunikasi berfokus pada kajian terhadap teknologi yang membuat perubahan moda komunikasi masyarakat, sedang teknologi informasi melihat teknologi yang mempengaruhi format dan signifikansi informasi bagi penggunanya.

Datangnya teknologi komunikasi baru, ditandai dengan meningkatnya jumlah dan berbagai macam teknologi (tahun 1980-an) yang berbasis pada teknologi elektronik. Yang lebih penting adalah “alam” atau nature  bagaimana media baru tersebut berfungsi, terjadi pertukaran informasi from many to many. Alam interaktif dibuat mungkin oleh elemen komputer yang terhubung menjadi jaringan (network) dan didukung peralatan seperti satelit.Hal tersebut sangat berarti dalam studi komunikasi dengan datangnya teknologi komunikasi baru, atau setidaknya menjadi kajian yang baru bagi ahli komunikasi untuk meneliti dan merumuskan kembali kemungkinan berubah paradigma lama tentang komunikasi dengan cara-cara yang “tradisional” menjadi pola komunikasi “bermedia” yang interaktif. Klasifikasi yang mungkin terjadi perubahan adalah arus pesan mengalir dari besarnya audience, segmentasi, tingkat interaktifitas, tingkat asynchronicity  (kemampuan untuk menyimpan), isyarat nonverbal, privasi dan kontrol arus komunikasi. (Rogers, 1986)

Karakteristik sistem komunikasi manusia sebagai akibat teknologi komunikasi baru adalah : Interactivity, kemampuan untuk ‘talk back’ kepada penggunanya artinya komponen teknologi elektronik yang ada memungkinkan adanya komunikasi dengan medianya secara automatic atau mechanical reaction, dan atau memungkinkan terjadi komunikasi interpersona melalui media atau ‘machine assited interpersonal communication’.  Makna interaktif yang pertama lebih sebagai reaksi mekanik yang terprogram di media, dan makna interaktif yang kedua mengandung artian mutual responsif yang lebih bertendensi pada human response yang didalamnya terdapat berbagai kemampuan seperti kecakapan untuk mendengar, terus-menerus, dan kecakapan intelegensi dalam merespon pesan yang disampaikan. Interactivity  yang dimaksud adalah kualitas dari sistem komunikasi seperti perilaku komunikasi yang diharapkan ; keakuratan, lebih efektif, dan lebih menyenangkan bagi para komunikan dalam proses komunikasi. Meskipun dengan adanya teknologi komunikasi baru yang bersifat interaktif, namun faktor individu yang aktif menentukan mau interaktif atau tidak. (Rogers, 1986)

Psikologi Remaja dan Seksualitas

Pelajar yang duduk di bangku SMP dan SMU termasuk dalam kategori remaja. Sementara itu remaja adalah masa peralihan ke masa dewasa, maka banyak hal yang harus mereka siapkan menuju kehidupan dewasa, termasuk dalam aspek seksualnya. Perilaku-perilaku remaja berkenaan dengan seksual didorong oleh hasrat seksual baik terhadap lawan jenisnya ataupun sesama jenis. Bentuk-bentuknya dapat beragam, seperti mulai dari perasaan tertarik karena paras cantiknya atau gantengnya, badannya yang atletis dan berisi, kemudian sampai pada tingkah laku berkenalan dan berkencan, bercumbu, serta kalau tidak direm dapat melakukan senggama atau making love (ML) kata para remaja sering menyebutnya. Namun perilaku seksual sering terjadi juga di kalangan remaja dikala kesendirinannya atau dengan pasangannya, melalui fantasi seksual ia menikmati hasrat seksnya dengan melakukan masturbasi. (Noegroho,2010a)

Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa perkembangan pada diri remaja dicirikan dengan mulai matangnya organ-organ kelamin, masa pubertas dan perkembangan fisik yang tampak dari luar seperti dada, pinggul dan daerah-daerah lain. Pertumbuhan kelenjar-kelenjar seks (gonad) remaja merupakan proses yang terjadi di dalam tubuh, dan para ahli berpendapat bahwa pertumbuhan kelenjar-kelenjar seks inilah yang justru menimbulkan penonjolan perkembangan jasmani luar.

Dalam masa remaja awal, perkembangan perilaku seksual merupakan akibat langsung dari pertumbuhan kelenjar-kelenjar seks. Hal ini menjadi sangat penting untuk mendapat perhatian karena pada saat terjadi pergaulan sosial remaja, maka dimungkinkan ia bertemu dan berusaha mendekati lawan jenisnya. Remaja putra mulai tergerak untuk mendekati remaja putri, dan remaja putripun seolah-olah memiliki magnet dengan menunjukan kemolekan dan keharuman tubuhnya, dan aktif menanggapi pendekatan yang dilakukan remaja putranya. Benih-benih cinta telah tumbuh di hati para remaja. (Noegroho, 2010a)

Ketegangan yang berkaitan dengan nafsu seks, sering menghinggapi diri para remaja. Perilaku-perilaku seksual yang telah disebutkan sebelumnya seperti berkencan, berpelukan, berciuman, meraba organ-organ vital, dan melakukan hubungan badan atau senggama, tentu menjadi keputusan yang sulit dan harus mengalami ketegangan yang serius di dalam batinnya. Pertentangan hati nurani, antara takut dosa, takut hamil,  kehormatan diri dan keluarga, serta hasrat seksnya yang sangat kuat.

Menurut Simkins, 1984 dalam Sarwono (2010:175) sebagian dari tingkah laku tersebut memang tidak berdampak apa-apa, terutama jika tidak ada akibat fisik atau sosial yang dapat ditimbulkan, akan tetapi pada sebagian perilaku seksual yang lain, dampaknya bisa cukup serius, seperti perasaan bersalah, berdosa, depresi, marah dan bagi para gadis dapat menggugurkan kandungannya.

Kemudian akibat psikososial lainnya adalah ketegangan mental, dan kebingungan akan peran sosial yang tiba-tiba berubah jika seorang gadis tiba-tiba hamil. Cemoohan dan penolakan dari masyarakat tentunya akan ia rasakan, dan berakibat putus sekolah. Akibat lainnya adalah terganggunya kesehatan dan resiko kehamilan serta kematian bayi yang tinggi. (Sanderowitz & Paxman dalam Sarwono, 2010:175)

Dari berbagai studi dapat disimpulkan bahwa masalah seksualitas pada remaja menurut Sarwono, (2010:187) timbul karena faktor-faktor berikut, yaitu:

  1. Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual (libido seksualitas) remaja. Peningkatan hasrat seksual ini membutuhkan penyaluran dalam tingkah laku seksual tertentu.
  2. Penyaluran itu tidak dapat segera dilakukan karena adanya undang-undang tentang perkawinan yang menetapkan batas usia menikah (sedikitnya 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria), maupun karena norma sosial yang makin lama makin menuntut persyaratan yang makin tinggi untuk perkawinan (pendidikan, pekerjaan, persiapan mental dan lain-lain)
  3. Sementara usia kawin ditunda, norma-norma agama tetap berlaku dimana seseorang dilarang untuk melakukan hubungan seks sebelum menikah. Bahkan larangannya berkembang lebih jauh kepada tingkah laku yang lain seperti berciuman dan masturbasi. Untuk remaja yang tidak dapat menahan diri akan terdapat kecenderungan untuk melanggar saja larangan-larangan tersebut.
  4. Kecenderungan palanggaran makin meningkat oleh karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan seksual melalui media massa yang dengan adanya teknologi canggih (video kaset, foto kopi, satelit, vcd, telpon genggam, internet dan lain-lain) menjadi tidak terbendung lagi. Remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan inginmencoba akan meniru apa yang dilihat atau didengarnya dari media massa, khususnya karena mereka pada umumnya belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orang tuanya.
  5. Orang tua sendiri, baik karena ketidaktahuannya maupun karena sikapnya yang masih mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak tidak terbuka terhadap anak, malah cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah yang satu ini.
  6. Di pihak lain, tidak dapat diingkari adanya kecenderungan pergaulan yang makin bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat sebagai akibat berkembangnya peran dan pendidikan wanita, sehinga kedudukan wanita makin sejajar dengan pria.

Cyber Extension

Cyber extension dapat didefiniskan sebagai upaya untuk menggunakan kekuatan jaringan online, komunikasi komputer dan multimedia interaktif digital untuk memfasilitasi penyebarluasan teknologi pertanian. Penggunaan Cyber extension efektif dalam penyelenggaraan penyuluhan pertanian, termasuk di dalamnya penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, Jaringan informasi nasional maupun internasional, Internet, Sistem Pakar, Sistem pembelajaran multimedia dan sistem pelatihan berbasis komputer untuk meningkatkan akses informasi kepada Petani, Penyuluh, Ilmuwan, Peneliti dan Manager penyuluhan. Namun perlu kita sadari dengan seksama bahwa Cyber extension bukan untuk mengganti sistem komunikasi yang ada. TIK akan menambah, di jalan besar, jangkauan dan interaksi dua arah antara para stakeholder kunci. Teknologi baru ini menawarkan kesempatan baru. Ini akan menambah interaktivitas lebih. Ini akan menambah kecepatan. Ini akan menambahkan komunikasi dua arah. Ini akan menambah usia yang lebih luas dan juga lebih pesan mendalam. Ini akan memperluas cakupan ekstensi, tetapi juga akan meningkatkan kualitas. Ini akan mengurangi biaya dan mengurangi waktu. Ini akan mengurangi ketergantungan pada begitu banyak aktor dalam rantai sistem penyuluhan, dan terus terang itu akan mengubah metode seluruh penyuluh di dekade mendatang. Pembangunan secara cepat telekomunikasi dan teknologi informasi berbasis komputer (IT) mungkin adalah faktor terbesar untuk perubahan dalam penyuluhan pertanian, salah satu yang akan memfasilitasi dan memperkuat perubahan lainnya. Ada banyak kemungkinan untuk aplikasi yang potensi teknologi dalam penyuluhan pertanian (FAO, 1993; Zipp, 1994) dalam situs lintas berita.com.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian survei dengan menginventarisasi berbagai pihak baik dari pemerintah maupun non pemerintah dalam upaya pendidikan kesehatan reproduksi remaja remaja dan mengumpulkan situs-situs yang menyediakan layanan informasi dan konsultasi mengenai kesehatan reproduksi remaja melalui internet.

Metode penelitian survei  menurut Nasir (1988:65) adalah penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual, baik tentang institusi sosial, ekonomi, atau politik dari suatu kelompok atau suatu daerah. Dan Sasaran penelitian adalah alamat-alamat situs di internet yang menyediakan layanan informasi dan konsultasi mengenai kesehatan reproduksi bagi para remaja di Indonesia

HASIL DAN PEMBAHASAN

Teknologi komunikasi sekarang telah berhasil mengintegrasikan teknologi telekomunikasi, teknologi informasi dan teknologi multimedia atau sering kita sebut teknologi telematika.  Ketika teknologi tersebut berjalan sendiri-sendiri tentunya dampak yang dihasilkan belum sebesar apabila bersatu seperti sekarang kita amati. Bervariatifnya pelayanan baru untuk mendapatkan informasi karena didukung teknologi telekomunikasi menjadi keniscayaan. Pelayanan baru tersebut pada hakekatnya adalah bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia akan informasi yang disajikan dalam berbagai bentuk. Karena manusia meng-encode dan men-decode informasi menggunakan panca inderanya (mata, hidung, telinga, mulut dan kulit), maka pelayanan inipun berupaya menyajikan informasi dalam bentuk gambar, grafik, teks, suara.

Merujuk pada arti dari Teknologi komunikasi menurut Roger (1986) dalam Noegroho (2010b) adalah sebagai perlengkapan hardware, struktur organisasi, dan nilai-nilai sosial dimana individu-individu mengumpulkan, memproses dan tukar-menukar informasi dengan individu-individu lain. Numun demikian peran sosial dari teknologi komunikasi saat ini telah menambah konsep jejaring sosial yang riil ada di masyarakat dengan jejaring sosial dunia maya atau cyber.

Perkembangan teknologi komunikasi dunia cyber seperti internet bagi setiap bangsa di dunia tidak mempunyai pilihan lain untuk menghindar dari terjangan arus informasi yang sangat deras, baik informasi yang positif maupun yang negatif mengenai berbagai hal, termasuk mengenai kesehatan reproduksi bagi remaja dari sumber informasi belahan dunia yang lain. Namun seberapa besar pemanfaatan teknologi komunikasi oleh pihak-pihak yang berkompeten di Indonesia dalam menyebarluaskan informasi dalam kerangka penyuluhan tentang kesehatan reproduksi? Pemanfaatan teknologi komunikasi memang sudah sepantasnya digunakan untuk mengikuti perkembangan zaman dan kebutuhan penyebarluasan informasi yang berkenaan dengan kesehatan reproduksi untuk remaja.

Beberapa instansi dari berbagai lembaga pemerintah dan non pemerintah juga gencar menyebarluaskan pesan kesehatan reproduksi melalui situs di internet, berikut ini alamat website yang bisa diakses dan terdeskripsi pada tabel 2:

Tabel 2. Alamat Website Kesehatan Reproduksi

No Alamat Situs Keterangan
  www.bkkbn.go.id Pemerintah
  www.kesrepro.info/www.mitrainti.org Kespro.dot.info
  www.seksehat.info* powered by WordPress
  http://www.kesehatanreproduksi.com IndonesiaCommerce.com
  www.surabaya-ehealth.org Pemkot Surabaya
  http://www.pilar.pkbi.20m.com NGO Jawa Tengah
  http://www.klinikpasutri.co.id* Dr.Boyke & rekan
  http://www.birudanpink.com Powered by WordPress | Designed by Fadli Wilihandarwo
  http://www.ceria.bkkbn.go.id Remaja BKKBN
  www.mcrpkbi.org Mitra Citra Remaja
  http://www.kesehatanibu.depkes.go.id* Kesehatan Ibu

Sumber: data penelitian yang diolah 2011

*lebih disarankan untuk remaja yang sudah siap menikah atau sudah menikah

Banyak ragam bentuk menu dari alamat situs yang ditawarkan oleh berbagai pihak dalam rangka penyuluhan dan konseling tentang kesehatan reproduksi remaja di dunia cyber, baik inisiatif dari instansi pemerintah dan non pemerintah. Namun tujuan dari penyuluhan kesehatan reproduksi remaja adalah sama yakni untuk memberikan pengetahuan kepada para remaja seputar kesehatan organ reproduksinya dan menguatkan perilaku remaja agar terhidar dari penyakit menular seks dan terjadi kehamilan yang tidak dihendaki sebelum menikah.

Dari sekian banyak situs yang ada dapat kita kategorisasi tampilan menu dalam situs-situs kesehatan reproduksi (Kespro) menurut sifat interaktivitasnya yang tersaji pada tabel 3 berikut:

Tabel 3. Tampilan menu dalam situs menurut sifat interaktivitasnya

Alamat Situs Berita Info Kespro Konseling
www.bkkbn.go.id
www.kesrepro.info/www.mitrainti.org
www.seksehat.info*
http://www.kesehatanreproduksi.com
www.surabaya-ehealth.org (forum diskusi)
http://www.pilar.pkbi.20m.com
http://www.klinikpasutri.co.id*
http://www.birudanpink.com
http://www.ceria.bkkbn.go.id
www.mcrpkbi.org
http://www.kesehatanibu.depkes.go.id*

Sumber: data penelitian yang diolah 2011

*lebih disarankan untuk remaja yang sudah siap menikah atau sudah menikah

Meskipun tampilan menu hanya sekedar memaparkan informasi dan berita pada situs  www.surabaya-ehealth.org, namun pelayanan konseling bagi para user-nya lebih ditekankan pada forum diskusi yang diposting oleh moderator diskusi. Keseluruhan situs yang dianalisis sudah melayani konseling bagi user-nya selain menampilkan berita dan informasi kesehatan reproduksi, seperti pada situs-situs http://www.ceria.bkkbn.go.id, www.kesrepro.info, http://www.pilar.pkbi.20m.com, http://www.birudanpink.com dan lain-lain. Contoh tema-tema yang sering menjadi topik dalam situs adalah seperti: Resiko-Resiko ML Sebelum Menikah, Mitos-Mitos Kesehatan Reproduksi, Tipe-Tipe Cowok Dan Gaya Pacaran Yang Wajib Dihindari, Keputihan, Penyakit Menular Seks, dan sebagainya. Hanya permasalahannya adalah seberapa besar remaja mengetahui keberadaan situs-situs tersebut dan memanfaatkan situs-situs yang ada untuk memberikan bekal informasi yang cukup mengenai kesehatan reproduksinya.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Menyimak banyaknya kasus yang terjadi pada remaja dan perilaku seksualnya yang mengarah pada yang negatif, sebenarnya banyak faktor yang mempengaruhinya: seperti keterbatasan akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi bagi remaja tidak berimbang dengan jenis risiko kesehatan reproduksi yang harus dihadapi remaja seperti kehamilan yang tidak dikehendaki (KTD), pengguguran kandungan (aborsi), penyakit menular seksual (PMS), dan kekerasan seksual. Pilihan dan keputusan yang diambil seorang remaja sangat tergantung kepada ketahanan mental yang mereka miliki untuk bicara “tidak untuk seks” serta ketersediaan pelayanan dan kebijakan yang spesifik untuk mereka, baik formal maupun informal mengenai kesehatan reproduksi remaja.

Sebagai langkah awal pencegahan, diharapkan media memiliki peran edukasi dalam rangka peningkatan pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi harus ditunjang dengan materi komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) yang tegas tentang penyebab dan konsekuensi perilaku seksual, apa yang harus dilakukan dan dilengkapi dengan informasi mengenai saranan pelayanan yang bersedia menolong seandainya telah terjadi kehamilan yang tidak diinginkan atau tertular penyakit menular seks (PSM).

Oleh karena itu pemanfaatan  media dalam dunia cyber  diharapkan lebih dari hanya sekedar memberikan informasi kesehatan reproduksi dan  juga mengkampanyekan perlunya kesehatan reproduksi bagi remaja dengan slogan “Say No to ML (Making Love)” atau “Say No to Sex Before Merriage” namun juga secara personal melakukan konseling secara pribadi baik melalui koneksitas internet di handphone maupun komputer. Hanya permasalahannya adalah seberapa besar ketertarikan remaja untuk memanfaatkan situs-situs yang ada untuk memberikan bekal informasi yang cukup mengenai kesehatan reproduksinya? Hal ini setidaknya menjadi saran untuk para peneliti berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

BKKBN online : Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sulawesi Tenggara (Sultra) Selasa, 29 Desember 2009 @ 15:25:00

———————-, 15 Februari 2007

———————-, 22 Januari 2010

Dacey, John. John Travers. Lisa Fiore. 2009. Human Development: Across the Life Span. McGraw-Hill Company Inc. New York

Nasir, Muhammad. 1988. Metode Penelitian. Penerbit Galia Bandung

Nasution, Zulkarimein. 1989.Teknologi Komunikasi. Fakultas Ekonomi UI-Press,   Jakarta.

Noegroho,Agoeng. 2010a. Sisi Lain Wajah Remaja Kita, Penerbit Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

————————, 2010b. Teknologi Komunikasi, Graha Ilmu, Yogyakarta

Rogers,Everett M. 1986.Communication Technology :  The  New Media     in Society, The Free  PressMacmillan Inc,  London.

Siregar, Ashadi, 2001. Makalah Seminar Teknologi Informasi, Pemberdayaan masyarakat dan Demokrasi, UGM, Yogyakarta.

Suriasumantri, Jujun S. 1985. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Sinar Harapan Jakarta

Sarwono, Sarlito W. 2010, Psikologi Remaja. Rajawali Press, Jakarta

www.surabaya-ehealth.org

Agoeng Noegroho,S.Sos. M.Si: Staf Pengajar Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unsoed, Peserta Program Doktor Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan UGM

 

Iklan

Tentang agoengnoegroho

Lecturer of communication department Jenderal Soedirman University
Pos ini dipublikasikan di Publikasi Ilmiah dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s