Artikel Koran

Catatan Untuk Deklarasi “ we care of the Borobudur”

Joko Suratno Ketua Pelaksana Deklarasi “ we care of the Borobudur”  7 Juni 2009 mengatakan bahwa apa yang dilakukan Asita bersama organisasi pelaku pariwisata merupakan sebuah awal untuk menggapai impian terciptanya pecitraan yang baik terhadap Borobudur di tingkat international. (Suara Merdeka, 8 Juni 2009)

Kegiatan seremoni yang saya ikuti tersebut meliputi pelepasan burung merpati dan pembacaan Deklrasi Borobudur bersama, serta bersih-bersih kompleks sekitar taman wisata Candi Borobudur. Harapan dari deklarasi tersebut setidaknya menjadi kesepakatan bersama para pelaku pariwisata untuk menawarkan Borobudur sebagai bagian dari paket wisata di tingkat Jawa Tengah, dan akhirnya ingin mengembalikan batu berundak itu sebagai bagian dari tujuh keajaiban dunia.

Ajaib rasanya kalau keinginan untuk menjadikan Borobudur sebagai sebagai bagian dari tujuh keajaiban dunia jika pemerintah dan rakyatnya yang berjumlah 200 juta-an jiwa tidak bekerja bersama-sama untuk mewujudkan mimpi itu. Sejak pada tanggal 07-07-2007, The New Open World Corporation mengumumkan tujuh keajaiban dunia yang baru (New Seven Wonders of the World) berdasarkan perolehan hasil voting. Sudah tentu berbagai kontroversi dan tanda tanya besar pun muncul berkaitan dengan terpilihnya tujuh keajaiban dunia yang baru. Pemilihan berdasarkan voting ini mungkin lebih tepat untuk melihat tujuh keajaiban dunia yang populer berdasarkan kuantitas dukungan masyarakat bukan melihat berdasarkan mana yang terbaik. Hasilnya, Candi Borobudur tidak termasuk tujuh keajaiban dunia yang baru.

Selain kepopuleran sebuah tempat terpilih sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia tentunya juga menggambarkan bagaimana suatu rakyat bersatu-padu untuk memperjuangkan situs peninggalan sejarahnya.  Sebagai contoh, berbagai upaya yang gigih dan bersama-sama yang dilakukan oleh orang-orang Brasil untuk memenangkan Monumen Patung Kristus Penebus sebagai tujuh keajaiban dunia. Selain itu juga kegigihan dan kebersamaan orang-orang India untuk kemenangan Taj Mahal, dan orang-orang Jordania untuk memenangkan Petra sebagai tujuh keajaiban dunia.

Fenomena ”munculnya” keajaiban-keajaiban dunia baru yang di blow up di berbagai media, baik cetak, elektronik bahkan, dunia maya sekalipun menjadi ajang untuk show up bahwa tempat kami lebih layak disebut sebagai sesuatu yang lebih populer dan yang ajaib. Ironi memang di sisi lain Deklarasi ”we care of the Borobudur) berupaya memperjuangkan Borobudur sebagai tujuh keajaiban dunia, namun Departemen Budaya dan Pariwisata Indonesia malah menggiring masyarakat Indonesia untuk vote Pulau Komodo sebagai tujuh keajaiban dunia melalui www.new7wonders.com yang disebarkan oleh salah satu provider telepon seluler terbesar di Indonesia.

Bagaimana dengan deklarasi ”we care of the Borobudur ” pada tanggal 7 Juni 2009 yang mendambakan Borobudur sebagai tujuh keajaiban dunia? Semoga tidak menjadi sesuatu mimpi di siang bolong (karena deklarasinya tepat menjelang tengah hari) atau keinginan Borobudur menjadi tujuh keajaiban dunia nasibnya tidak seperti burung merpati yang dilepas secara simbolis pada saat deklarasi.

Jadi Borobudur bisa menjadi tujuh keajaiban dunia yang baru? Bisa, jika saja pemerintah dan rakyat yang berjumlah 200 juta-an jiwa ini bekerja bersama-sama memperjuangkan untuk itu. Sayangnya hal itu tidak terjadi. Bahkan maraknya aksi terorisme, kerusuhan masal dan ketidakramahan penduduk Indonesia telah menenggelamkan citra pariwisata Indonesia.

Pariwisata Lokal dan Nasional

Jikalau Borobudur tidak dapat menjadi tujuh keajaiban dunia (New Seven Wonders of the World) tahun ini, setidaknya Candi Borobudur masuk menjadi salah satu kategori sebagai ”The forgotten Wonders”  atau keajaiban yang terlupakan dalam situs www.wonderclub.com. Sedih memang, kalau orang Indonesia sendiri atau khususnya orang Jawa Tengah sudah tidak lagi mengagendakan Candi Borobudur sebagai daerah tujuan wisata, atau sudah melupakan kemegahan Borobudur.

Tidak berlebihan memang kalau mengharapkan para pelaku pariwisata berkumpul bersama untuk mendeklasikan kepeduliannya terhadap Candi Borobudur. Sebagai bukti komitmennya atas deklarasi tersebut, maka para pelaku pariwisata diharapkan mau memprioritaskan atau setidaknya lebih keras usahanya dalam mempromosikan Borobudur dalam paket-paket wisata yang ditawarkannya, baik pada wilayah lokal dan atau nasional.

Dalam kegiatan berpariwisata tidak lepas dari peran jasa biro dan agen perjalanan wisata, serta peran dari wisatawan sebagai pelaku pariwisata itu sendiri. Pariwisata (Wahab, 2003) dapat menjadi suatu tuntutan hasrat seseorang untuk mengenal kebudayaan dan pola hidup bangsa lain dan sebagai suatu upaya untuk mengerti mengapa bangsa lain itu berbeda. Mungkin juga pariwisata dijadikan jalan untuk menemukan kembali diri sendiri ketika berada pada suatu lingkungan yang berbeda. Biasanya wisatawan tertarik pada suatu lokasi (objek wisata) karena ciri-ciri khas tertentu, diantaranya adalah; keindahan alam, iklim atau cuaca, kebudayaan, sejarah, dan sifat kesukuan (ethnicity).

Pembukaan dan pengembangan objek wisata oleh pemerintah dapat merangsang pembukaan usaha-usaha baru oleh pihak swasta, seperti : perdagangan, perhotelan, sarana hiburan, dan jasa-jasa lainnya, pada gilirannya tidak saja dapat meningkatkan PAD (dampak mulitiplier). Peningkatan PAD dan pendapatan masyarakat ini selanjutnya merupakan modal dasar bagi pembangunan kepariwisataan daerah dan pembangunan sektor lain yang berarti terjadi reinvestasi. Eskalasi dampak multiplier dan akseleratif yang terus menerus dari sektor pariwisata, dapat menciptakan pembangunan daerah yang built in flexible secara berkelanjutan.

Seperti yang dikutip Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jateng Gatot Bambang Hastowo dalam Suara Merdeka 8 Juni 2009, mengatakan, kegiatan ini (deklarasi) merupakan awal yang baik untuk melestarikan Candi Borobudur, sekaligus mendukung penggalian potensi pariwisata. Kita tahu bahwa sektor pariwisata Borobudur memberikan multi efek pada sektor ekonomi dan berbagai sektor lainnya. Pemerintah dan dunia usaha bergandengan tangan membangun ekonomi kerakyatan dari sektor pariwisata.

Harapan terakhir, semoga kemegahan Candi Borobudur masih diakui setidaknya oleh masyarakat Jawa Tengah pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya dan bukan menjadi keajaiban yang terlupakan. (Agoeng Noegroho, peneliti pariwisata dari Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Unsoed Purwokerto)   wacana_lokal@suaramerdeka.info

Iklan

Tentang agoengnoegroho

Lecturer of communication department Jenderal Soedirman University
Pos ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s